(Posting: Repelita, September 08. Chrisna Permana - Pengamat Ekonomi Perkotaan)
Prakata,
Hampir satu semester tahun ini saya dibuat merinding jika membaca lembaran the straits, newyork times, bisnis indonesia, lou velle hingga saudi’s daily. Ya! alam pikir sensitif saya kemudian bertanya2… ada apa gerangan dengan dunia? Bukan lagi seperti tahun 2004 dengan tsunami, kekeringan dan badai, atau bukan pula dengan tahun 2007 yang diliputi oleh perang dan kekejaman serta pembunuhan masal, tapi kini 2008, corak gejala penghancuran dunia yang dirasa sedikit lebih “intelek” namun jauh lebih berbahaya eksesnya terhadap peradaban dunia telah terjadi. Sadar atau tidak disadari. Mohon dibayangkan secara seksama….
Diawali oleh fenomena naiknya harga minyak dunia (sebagai dampak kenakalan Amerika Serikat dan kelompok timur-tengah sebagai supplier minyak dunia terbesar melalui OPEC yang disinyalir melakukan “kartel” demi mengkebiri calon negara maju yang miskin minyak seperti China, India, dan Russia), disusul oleh fenomena krisis Georgia-Russia (perang eropa timur yang menghabiskan cukup banyak jiwa di dasawarsa ini), isu pemanasan global (air laut naik setinggi 15 cm dalam setiap 4 bulan, yang akan mengancam pulau2 dan potensi menyebabkan banjir massal di pulau2 rendah), krisis politik Jepang (yang dimulai oleh manuver ekonomi yang tidak lazim dari seorang pemimpinnya, Fukada Yasuo), Gempa bumi dashyat di China dan Kazakhstan, Aneka paket makanan “beracun” dari China (entah disengaja atau tidak), penyebaran virus-virus mematikan dari Turki, Indonesia dan Mozambique, hingga yang terakhir ini, krisis ekonomi global (yang berawal dari sublime mortgage crisis di Amerika Serikat dan lingkaran setan permainan kapitalis korporatokrasi ekonomi dunia seperti Lehmann Broth., JP Morgan, IMF, Main, Bechtel Inc., dan lain2). Bayangkan,,, dunia kini ibarat di bom sana-sini (meski oleh senjata non-psikis). Tetapi saja dampaknya sama… yakni alamat Kehancuran!
Sempat saya membaca The Economic Hitman karya John Perkins yang menceritakan detail permasalahan kenakalan ekonomi bangsa barat yang dengan kehausan mereka akan kekayaan dan kekuasaan, rela mendzalimi kelompok bangsa timur (dan lain2) yang notabene adalah kelompok yang tertinggal. Saya juga pernah mereview Making Globalization Works, karya Joseph Stiglitz, dan benar adanya tulisan tersebut, bahwa kapitalis dengan sendirinya jugalah yang akan mengawali perekonomian global yang tidak berkeadilan dan mengakhirinya dengan kekalahan bagi kaum yang batil (para penggagas dan “pemaksa” ekonomi kapitalis). Pun saya pernah berkesempatan untuk bertukar pikiran dengan Prof Didik J Rachbini dan Drajad Wibowo (kawan2 komisi IX DPR-RI) bahwa sesungguhnya perekonomian dunia terutama Amerika bukanlah kekuasaan tanpa celah kekurangan, siapapun di dunia ini bersiklus, termasuk ekonomi. Sehingga jika kini mereka hancur, maka sadarilah, mereka ada dalam siklus itu. Maka barangsiapa menjadi adidaya, maka bangsa tersebut janganlah menjadi durjana dan mengacaukan peta perekonomian dunia…
Saya bukan menakut-nakuti, saya juga bukan menggurui atau sok mengetahui, tapi semua fenomena ini adalah semata fakta yang memang benar adanya. Nyata. dan tidak dapat di abaikan belaka. Tidak banyak yang bisa kita lakukan, selain memulai utk berbekal terhadap diri sendiri… terutama mengenai, apa yang sudah kita tabungkan untuk masa depan kita (di Alam sana…) entah pahala ataukah dosa. Dan tidak kami menciptakan langit dan bumi dan apa-apa antara keduanya melainkan dengan lengkap. Dan bahwa sa’at (saa’ahh) kehancuran itu akan datang Lantaran itu maafkanlah dengan cara yang bagus (Al-Quran, surat Al-Hjir, ke 15 ayat 85)
Episode dunia semakin dekati akhir. Dunia sudah terjangkit oleh penyakit alam, sosial, politik, keamanan, lingkungan…dan kini yang terakhir…. EKONOMI. Maka tidak salah jika kemudian kita mengatakan bahwa, ternyata ekonomi juga akan menjadi sumbu kiamat dunia kita. Wallahu’alam.
Posted in Uncategorized | 1 Comment »