Feed on
Posts
comments

(Posting: Repelita, September 08. Chrisna Permana - Pengamat Ekonomi Perkotaan)

Prakata,

Hampir satu semester tahun ini saya dibuat merinding jika membaca lembaran the straits, newyork times, bisnis indonesia, lou velle hingga saudi’s daily. Ya! alam pikir sensitif saya kemudian bertanya2… ada apa gerangan dengan dunia? Bukan lagi seperti tahun 2004 dengan tsunami, kekeringan dan badai, atau bukan pula dengan tahun 2007 yang diliputi oleh perang dan kekejaman serta pembunuhan masal, tapi kini 2008, corak gejala penghancuran dunia yang dirasa sedikit lebih “intelek” namun jauh lebih berbahaya eksesnya terhadap peradaban dunia telah terjadi. Sadar atau tidak disadari. Mohon dibayangkan secara seksama….

Diawali oleh fenomena naiknya harga minyak dunia (sebagai dampak kenakalan Amerika Serikat dan kelompok timur-tengah sebagai supplier minyak dunia terbesar melalui OPEC yang disinyalir melakukan “kartel” demi mengkebiri calon negara maju yang miskin minyak seperti China, India, dan Russia), disusul oleh fenomena krisis Georgia-Russia (perang eropa timur yang menghabiskan cukup banyak jiwa di dasawarsa ini), isu pemanasan global (air laut naik setinggi 15 cm dalam setiap 4 bulan, yang akan mengancam pulau2 dan potensi menyebabkan banjir massal di pulau2 rendah), krisis politik Jepang (yang dimulai oleh manuver ekonomi yang tidak lazim dari seorang pemimpinnya, Fukada Yasuo), Gempa bumi dashyat di China dan Kazakhstan, Aneka paket makanan “beracun” dari China (entah disengaja atau tidak), penyebaran virus-virus mematikan dari Turki, Indonesia dan Mozambique, hingga yang terakhir ini, krisis ekonomi global (yang berawal dari sublime mortgage crisis di Amerika Serikat dan lingkaran setan permainan kapitalis korporatokrasi ekonomi dunia seperti Lehmann Broth., JP Morgan, IMF, Main, Bechtel Inc., dan lain2). Bayangkan,,, dunia kini ibarat di bom sana-sini (meski oleh senjata non-psikis). Tetapi saja dampaknya sama… yakni alamat Kehancuran!

Sempat saya membaca The Economic Hitman karya John Perkins yang menceritakan detail permasalahan kenakalan ekonomi bangsa barat yang dengan kehausan mereka akan kekayaan dan kekuasaan, rela mendzalimi kelompok bangsa timur (dan lain2) yang notabene adalah kelompok yang tertinggal. Saya juga pernah mereview Making Globalization Works, karya Joseph Stiglitz, dan benar adanya tulisan tersebut, bahwa kapitalis dengan sendirinya jugalah yang akan mengawali perekonomian global yang tidak berkeadilan dan mengakhirinya dengan kekalahan bagi kaum yang batil (para penggagas dan “pemaksa” ekonomi kapitalis). Pun saya pernah berkesempatan untuk bertukar pikiran dengan Prof Didik J Rachbini dan Drajad Wibowo (kawan2 komisi IX DPR-RI) bahwa sesungguhnya perekonomian dunia terutama Amerika bukanlah kekuasaan tanpa celah kekurangan, siapapun di dunia ini bersiklus, termasuk ekonomi. Sehingga jika kini mereka hancur, maka sadarilah, mereka ada dalam siklus itu. Maka barangsiapa menjadi adidaya, maka bangsa tersebut janganlah menjadi durjana dan mengacaukan peta perekonomian dunia…

Saya bukan menakut-nakuti, saya juga bukan menggurui atau sok mengetahui, tapi semua fenomena ini adalah semata fakta yang memang benar adanya. Nyata. dan tidak dapat di abaikan belaka. Tidak banyak yang bisa kita lakukan, selain memulai utk berbekal terhadap diri sendiri… terutama mengenai, apa yang sudah kita tabungkan untuk masa depan kita (di Alam sana…) entah pahala ataukah dosa. Dan tidak kami menciptakan langit dan bumi dan apa-apa antara keduanya melainkan dengan lengkap. Dan bahwa sa’at (saa’ahh) kehancuran itu akan datang Lantaran itu maafkanlah dengan cara yang bagus (Al-Quran, surat Al-Hjir, ke 15 ayat 85)

Episode dunia semakin dekati akhir. Dunia sudah terjangkit oleh penyakit alam, sosial, politik, keamanan, lingkungan…dan kini yang terakhir…. EKONOMI. Maka tidak salah jika kemudian kita mengatakan bahwa, ternyata ekonomi juga akan menjadi sumbu kiamat dunia kita. Wallahu’alam.

“Jika tuan pernah singgah di tanah Riau Daratan, perkenankanlah saya bertanya pada tuan, apa yg tuan ingat dan dirasa paling berkesan….?”

Saya iseng bersimulasi utk menanyakan pada kolega, sanak kerabat, dan kawan. Kebanyakan mereka seringkali menjawab, “Banyak hutan kelapa sawit (terutama di Rokan Ulu), banyak sungai besar (terutama sungai Siak), banyak kapal industri yang megah (terutama di pelabuhan dumai), banyak tenaga kerja necis dari pulau Jawa (terutama para ahli tambang di Rumbai), dan lempok durian (ehehe..). Semua itu ada benarnya juga, tp apa sekiranya yg jauh lebih dikesankan dari Riau Daratan jika kemudian kita menelaahnya dari sudut pandang perspektif perkotaan?

Episode 1. Pekanbaru

Pertama kali tiba di Riau daratan jelaslah kami tiba di Kota Pekanbaru. Ibukota yang bersahaja dengan nuansa melayu yg sangat kentara. Orang2 berkulit agak hitam beralis tebal dan berbicara menggunakan irama. Nuansa serambi2 terpampang di mana2. Sangat banyak sepeda motor (pada saat itu sedang tren-trennya menaiki sepeda motor sambil menyalakan lampu, kebijakan “angot2an” dari pemerintahan pusat). Perjalanan dari bandara Sultan Syarif Kasim hingga hotel Grand Zuri di jantung kota Pekanbaru ditempuh sekitar 20 menit, melalui gedung2 pemerintahan, ruko2 dan pertokoan, hingga bangunan-bangunan landmark seperti masjid agung dan tugu2 persimpangan.

Pekanbaru panas. Pola penataan ruangnya cenderung “grid” membentuk petak2 segiempat dengan banyak persimpangan di penghujung jalan. Dengan kontur yang berbeda2 khususnya pada bagian selatan perbatasan, membuat banyak jalan yang seakan tanjakan dan seakan turunan.

Jenderal Sudirman, Kami menyebutnya jalan utama, krn dirasa, jalan Jenderal Sudirman inilah jalan dengan 2 lajur bertepi lebar berlawanan arah yang terpisahkan oleh pembatas sempadan jalan berupa tanaman2. Sepanjang jalan ini, kami temui hotel2, ruko, perkantoran pemerintahan, terminal, hingga akhirnya sampai di hotel tujuan.

Oya, sekedar mengingatkan, jangan sungkan untuk berjalan kaki malam, kami melakukannya. Kota Pekanbaru relatif aman, selama anda tidak berpenampilan mencolok (alias tidak menenteng hp ditangan, leher emas berkalungan, berlian dan intan di tangan kiri dan kanan). Tempat saya menginap, hanya beberapa langkah saja dapat menjangkau dua mall besar di kota itu. Sekalian mencari junkfood utk makan malam dan watung internet krn hendak berkorespondensi email dg rekan di Jakarta. Jangan kaget apabila menemukan angkutan kota berbunyi nyaring dg musik2 dangdutnya yang melebihi volume setel wajar. Jangan mencari angkot yg sepi, krn saya yakin anda akan sulit menemui. Lumrah, di sana angkot dilengkapi dengan sound system musik2 dangdut dan melayu. Sedikit berhati2, krn konon seringkali terjadi perampokan dg modus operandi, si pendatang naik angkot kemudian di suruh duduk di bagian terdalam, lantas si sopir dan kenek angkutan bekerjasama dengan preman, ditumpangilah preman yg sudah berdiri di satu titik tepi jalan, kalau sudah naik maka dimulai lah ancaman si preman. Maka jika sudah demikian, ditelanjangilah kita habis2an. Semua dompet, hp, perhiasan, jam tangan ludes diamankan sang preman, kcuali mungkin pakaian dalam (jika dia berkenan).

Hm…stop yg mengerikan. Beralih ke makanan, rasa2nya tidak ada yg terlalu khas dengan masakan orang Pekanbaru. Banyak ditemui sayur bersantan di rumah makan melayu (mirip palembang - seperti gulai ikan patin), rendang dan aneka masakan padang di restoran minang, dan malah2 masakan jawa. Overall, cukup banyak pilihan bila hendak mencari makan.

Episode 2. Kampar - Siak - Pelalawan Banjir-Banjiran

Dari Pekanbaru, Kampar - Siak - Pelalawan kira2 dijangkau sekitar lebih dari 3 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan mirip dengan Bandung Jakarta, perbukitan, rumah-rumah tradisional hingga sungai-sungai berbadan lebar. Kami menggunakan mobil SUV kijang kapsul hitam milik pemerintahan menyusuri ruas jalan yang berkelok2an. Saya, dan kawan Anto yg sibuk dengan handycam selama perjalanan asik membicarakan perihal gerakan Riau Merdeka. Begitulah Indonesia, tanah tumpah darah kami bertiga. Saking banyaknya daerah yang merasa diabaikan pembangunannya, padahal mereka memiliki sumber daya alam yang melimpah tidak ada habisnya, maka mereka seringkali memberontak pada negara, mengancam hendak merdeka, apabila tidak disejahterakannya. Perspektif kenegaraan yg sempit dari kawan2 separatis. Mohon sekiranya, jika ada yg membaca utk tidak dibahas mengenai hal ini. Saya anti separatis, tapi fakta ini berkecamuk di mana2.

“Kampar dan Siak ini rawan banjiran pak, kalau sudah musim hujan,” keluh Pak Sopir. Seketika kami melintasi di atas jembatan sungai Kampar.

“Pantas lah pak, orang sungainya sebesar ini, saya dengar Pelalawan juga demikian?” sahut saya.

“Iya. Di mana yang tidak banjir di Riau ini Pak,” jawabnya.

Kampar - Siak - Pelalawan (dan bahkan mungkin Rokan hingga ibukota  provinsi, Pekanbaru) seringkali dilanda banjir bandang. Sungguh ironi ditengah provinsi yang konon memiliki areal hutan dan kebun semak2an yang luas nian. Analisa saya, terjadi pengerusakan pada titik2 catchment area (hutan dan sempadan sungai), selain itu curah hujan di Provinsi ini memang sangat tinggi, juga banyak daerah yang memiliki kontur tidak berimbang, sebagian lahan ada di dataran rendah sebagian lahan ada di dataran tinggi, yang rendah terkadang menyerupai kubangan. Maka wajar jika kemudian, air genangan tidak pergi kemana2 selain merendam perumahan. Maka dari itu, kami sekawanan konsultan, ditugaskan negara utk membangun rumah yang lebih tertata dan sesuai dengan keadaan lingkungan serta meminimalisir dampak banjir2an.

***

Bersambung.

Muntok, September 2006.

Kami menyebutnya “kota mati”. Entah knapa, bukan lantaran tidak ada tanda kehidupan, atau gelap gulita di sana. Namun krn memang auranya sangat tidak biasa. Dipikir2, kami merasa ini jauh berbeda dengan ketika kami tiba di Pangkal Pinang, dan Sungailiat (dua kota terbesar di Pulau Bangka) selama lawatan 3 hari kami di Pulau Bangka. Episode kunjungan kami (saya dan kawan Al) sebagai pekerja konsultan pembangun rumah-rumah perumnas di pedalaman Nusantara.

Perjalanan

Dari Sungailiat, Muntok dijangkau dengan jeep Nissan Terrano skitar 4 jam perjalanan. Melalui rimba, semak belukar, ladang sisa penambangan timah, hingga perkampungan transmigran. Hanya satu kata yg dapat mewakilkannya: “gersang!” kawan Al yg mengekspresikannya dg tidak bosan2 memeluh keringat di dahinya acap kali si sopir mengiba utk membukakan jendela mobil krena mengantuk dan ingin menikmati kreteknya.

Sampai di Kota Muntok, perjalanan belum berakhir. Jangan berpikir anda akan singgah di Novotel berkelas atau Sol Elite yg mewah di mana anda akan di sambut dg karangan bunga dan pelayanan dg rona bersahabat di wajah. Tidak ada hotel! yg ada hanya losmen. itupun sangat jarang. Krn kurang berjiwa petualang, lantas saya keluar masuk losmen yg ada hanya demi menjamin kebersihan dan keamanan losmen. Hingga kawan Al akhirnya mengoreksi, “Kau cari apa? di sini tidak akan kau temui hotel bintang. Sudahlah, di sini saja, sudah cukup malam. khawatir malah kita kehabisan kamar singgah.” Saya pun menyerah dan kami akhirnya singgah. Sore hari menjelang malam. 17.30

Losmen

Losmen Arjuna. Ini losmen lebih mirip rumah sakit Dustira Bandung atau halaman Fakultas Kedokteran UI Salemba. Bangunan kuno, banyak patung2, bernuansa mistik. Seorang paman Bangka (kemudian diketahui adalah penunggu losmen) segan tidak segan menyapa. “Untuk berapa malam?”

“Kami sewa 2 kamar utk satu malam.” Masing2, saya dan kawan Al satu kamar besar dg twin dan si sopir satu kamar kecil standar. Harga sewa losmen arjuna utk kamar terbaik adalah 175 ribu (dalam hati saya tertawa, ini berbeda 1 digit nol dengan kamar hotel berbintang kelas termurah yg kami sewa di Kota Palembang).

Menuju ke kamar. Begitu pintu kami buka. Ranjang tua, ukuran queen. Televisi 14 inci merk sharp, menyelinap di antara lemari2 tua jati usang yg sbagian sudah digerogoti oleh rayap. Bau lembab sangat mengentara. Jika tidak kuat, siap2 utk merasa seperti asma. Kawan Al lantas membuka kamar mandinya. Di dalamnya ada sebuah bak ukuran besar, lantai tidak berporselen, dan cubluk jongkok (yg dulu sering saya temui di kampung halaman di pedalaman Tasikmalaya). “Penginapan macam apa ini!” saya pun tak kuasa mengeluh. Sungguh ironi, pekerja konsultan internasional berbekal rupiah menebal (ehehe…) sampai hati harus merebahkan badan di kamar sumpal, yakin saja badanku akan pegal2. 19.00 s/d 23.00

Dinner ala Jongko

Kalau perut sudah meraung, siapa tahan untuk menanggung. Malam2 buta. Lapar akhirnya mengantar saya, kawan Al dan sopir utk berkumpul di depan lorong kamar. Kami sepakat untuk mencari makan. Lalu kami bertiga melangkah di lorong losmen yg gelap yg setiap 3 langkah kami temui patung2 entah belalang raksasa atau perempuan telanjang berwarna kayu coklat. “Uji nyali ini sih,” celetuk saya. Lainnya tertawa. Masing2 berjaket krn memang malamnya jauh lebih dingin dibandingkan siangnya.

23.40, sekitar. Keluar pelataran hotel kaget bukan kepalang. Jalanan raya sepi. Gelap tanpa lampu. dan dari kejauhan kami hanya melihat cahaya lentera satu warung jongko (tenda penjajak makanan nasi goreng dan seafood) sekitar 100 m dari titik di mana kami berdiskusi mau kemana ini. “Cuma ada itu saja pak,” sopir menunjuk. Maka kemudian kami bertiga melangkah menyusuri tepian jalan dg permukaan antara kerikil, rumput, aspal atau takut kecebur comberan marka jalan, mendekati warung jongko.

Nasi Goreng Seafood

Jangan kaget apabila ke Bangka, kalau tidak rajin bertanya, apalagi jika anda seorang anti hidangan seafood ria. Minimal setiap masakan kalau tidak ada serpihan ikan, ya ada saja sekawanan udang kecil atau sepotong tubuh cumi2 mungil. Matilah saya! Kawan Al dan sopir menertawai kegondokan saya ketika nasi goreng sudah tercampur dengan anyir seafood. “Saya nggak bisa makan ini, bisa gatal2 saya.”

Tragedi Koper Bergoyang

Kamar twin sharing. Dua tempat tidur terpisah. Saya merebah sementara kawan Al sibuk mengulas catatan dan handycam-nya. Pukul 01.00, sekitar. Suasana hening, lampu kamar redup, saya mengantuk. Kawan Al sibuk membolak balikan catatan di ranjangnya. “Lanjutkan saja besok, kita prlu stamina besok.” dia hanya tertawa dan membalas, “Tidurlah…”

Hening seketika, sehampir saya memejam, tiba2 “Graaak…” kami sama2 berpandangan. “Gruaak…” mencari muasal bunyi, hingga akhirnya tercengang dg muka ngeri. Melihat kopor bergerak tidak keruan kesana kemari. Sumpah! ini kali pertama saya melihat fenomena seperti ini. Tadinya saya fikir saya terhalusinasi kantuk, tapi setelah saya sadari kawan Al mengucap dg lantang, “Astagfirullah…” akhirnya saya sadar ini nyata. Sesaat kami hening.

“Sudah saya duga, losmen ini aneh!”

“Iya, tapi mw bagaimana lagi,” kilah kawan Al. Mukanya tertawa masam. “Perlu panggil si Afu?” maksudnya si sopir di kamar sebelah. Saya menggeleng.

“Tidur sajalah, biarkan saja itu,” sambil menunjuk kearah kopor bergerak yg kini sudah tegak kembali.

Lampu Padam

Sekitar 02.00, tidur kami terperanjat karena tiba2 kamar gelap. Saya maklum kalau lampu sering padam. Di Indonesia mana selain jawa kalau tidak dua jam sekali padam listriknya. Tapi ini berbeda! Tiba2 listrik padam, gelap gulita. tengah malam pula. Celaka! pekat saya. Saya tidak bisa melihat apa2, bahkan kawan Al pun saya tidak bisa memonitor keberadaanya, kecuali saya bertegur sapa, “Aman kau?” lantas dia menjawab, “Ya! Diam saja ditempat berdoa.”

“Creek!” mustahil mustajab. Televisi kuno merk Sharp 14 inci di hadapan kami tiba2 menyala sndirinya. Ini gila! teknologi TV macam apa, hingga tanpa listri k dia menyala. Kuingat RCTI tayangannya, ketoprak humor. Kamar masih gelap gulita kecuali cahaya dari layar televisi. Sedikit kulihat kawan Al terperangah.

“Ckckck.., nasib kita Al.”

“Kalau begini caranya kita keluar saja!” kawan Al sudah mulai tidak tenang.

“Kemana? mobil? ada jaminan di sana tidak ada yg mengetuk jendela mobilnya? kan kita memarkirkan di halaman parkir segitu sepinya?”

“Aaah! Payah ini losmen!” hingga akhirnya tv mati dengan sndirinya. gelap gulita. diantara kami hanya bisa terdiam pasrah di tempat tidur masing2. bungkam dan mencoba memejam. Saling mendahului utk tertidur menghindar dari suasana angkar.

***

06.00 salat subuh sedikit terlambat (wudhu bersama, saling menunggu, karena akhirnya nyali kami menciut juga). Kamar sudah mulai terang oleh cahaya alam. Matahari mulai sinari. Afu mengetuk pintu, mengajak sarapan. lalu kami ceritakan semuanya. Afu tertawa dia menjawab, “Bapak enak berdua, lah saya alami itu sendiri.” Lantas ia menceritakan kejadian malam nya pintu kamarnya yang diketuk dua kali, ia tidak membukanya krn takut dan hanya berteriak, “siapa…”, namun tidak ada yg menjawabnya.

Kota pengasingan Bung Karno. Kota pelabuhan di semenanjung Bangka. Kota ruko gudang kelontong para pedagang kok-tiong. Muntok, ajaib, aneh, bermakna, namun memberi kami sejumlah cerita. Oleh2 dari Muntok? sejepret dua jepret foto kami bertiga di Losmen tak bertuan. di penginapan tanpa keramaian. tempat peristirahatan yang penuh dengan keanehan.

Cerita nyata hanya sebuah epik pengalaman belaka. Siapa percaya boleh menyerapnya, siapa tidak silahkan baca lalu ditolak. Saya hanya berbagi cerita atas apa yang ada, diluar batas logika, bahkan bagi kami pemuda2 yg terbiasa berpikir dan berbicara dg fakta dan hipotesa. Karena gaib tidak bisa sejalan dengan teori ilmiah. krn gaib akan tetap menjadi sejarah yg terserah…

____

Salam Hormat,

Chrisna Permana.

JALAN TOL MUSUH ATAU KAWAN PETANI

(Oleh:  Chrisna Permana - Pengamat Ekonomi Perkotaan, Urban Regional Development Institute, Posting Jurnal Nasional Juni 2008)

Permasalahan pertanian di Indonesia, selain masalah kebijakan, dan efek persaingan global juga diperparah oleh pembangunan fisik yang lebih bersifat “stimulative structural reform”. Yang mana Indonesia di era modern ini, pembangunan fisik justru lebih berpihak terhadap kemajuan industrialisasi aplikatif (sebagai andalan penggerak ekonomi nasional), justru pada saat pundi-pundi utama pendukung industrialisasi tersebut belum sepenuhnya mantap. Mulai dari penerapan teknologi yang masih lambat, sumber daya manusia yang belum berdaya saing tinggi, faktor kebijakan dan perlindungan peraturan pemerintah yang masih belajar utk membaik, hingga iklim keamanan sosial dan kestabilan ekonomi yang masih rentan oleh pengaruh dalam maupun luar negeri. Sedangkan di sisi lain, pembangunan fisik yang tendensius tersebut justru mengancam eksistensi perkembangan pertanian. Pembangunan fisik yang bersifat stimulative structural reform, mencakup jalan tol, saluran drainase pabrik, tempat pengolahan sampah, sarana berbelanja modern (hypermarket, mall), hingga perumahan kota baru.

Satu contoh kasus yang menyoroti perhatian saya adalah, demi kepentingan ekonomi dan industri, digulirkan wacana Tol 1000 km Trans-Jawa (Anyer hingga Banyuwangi). Siapa berkepentingan dan siapa menuai keuntungan di sini? Jika melihat dari efeknya terhadap petani. Saya justru pesimis. Khawatir akan transformasi struktural semakin menjadi-jadi di Pulau Jawa. Belumkah disadari bahwa pembangunan tol Cikampek sudah mengorbankan lahan pertanian di karawang? fakta tercatat sejak tahun 1962 hingga 1991 Karawang adalah produsen beras terbesar di Indonesia. Berdasarkan data BPS, 20% produksi nasional adalah berasal dari Karawang. Akan tetapi ditahun yang sama, semenjak tol cikampek dibangun, industri berkembang di sepanjang jalur strategis tol tersebut. Migrasi tenaga kerja industri dari daerah lain berdatangan dan membuat permukiman baru, sementara penduduk setempat mulai berurbanisasi menjadi masyarakat industri. Lahan sawah berkurang 139 Ha setiap tahun sejak 1991-kini, produksi gabah kering berkurang 450.360 ton hampir setiap tahun. Belakangan bahkan fenomena seperti ini mulai merambah ke Purwakarta, Subang, Bekasi dan bahkan Tasikmalaya. Tol versus petani. Karena tol sangat stimulan terhadap transformasi struktural dari sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder (industri).

Bayangkan jika kemudian tol 1000 km jadi terbangun. Jalan tol tersebut melalui hampir 12 titik strategis pertanian di Jawa Barat (padahal Jawa Barat merupakan produsen pertanian terbesar di Indonesia). Adalah Indramayu, Sukabumi, Cirebon, Subang, Probolinggo, Pemalang, Pekalongan, Kudus, Pati hingga Grobogan akan mengalami fenomena yang sama dengan karawang. Kurang lebih sekitar 600 Ha lahan pertanian irigasi teknis terkonversi (belum lagi multiplier efeknya berupa pertumbuhan permukiman pekerja industri dan pusat perbelanjaan yang mungkin akan mengkonversi lahan tani lebih besar lagi). Siapa lantas yang akan mendukung produksi pertanian Jawa Barat?

Alih-alih berdebat, saya justru hendak meningatkan, laju pertumbuhan penduduk tahun 2005-2010 indonesia akan mencapai 1,3% yang mana penduduk Indonesia akan bertambah mencapai 243 juta jiwa. Yang berarti (asumsi beras dikonsumsi 139 kg pertahun) maka dibutuhkan beras sebanyak 33,78 juta ton. dan kebutuhan pangan (beras) pada tahun 2030 bahkan akan lebih ekstrim mencapai 59 juta ton. Jumlah beras yang sangat tinggi dan perlu dukungan dari produksi nasional.

Pemerintah berdalih bahwa pertanian akan ditukar untuk dikembangkan di daerah lain. Namun dimana? sudah banyak diketahui adalah Pulau Jawa sebagai lahan tani paling subur. Bahkan tingkat kesuburannya 1 berbanding 9 dengan di pulau-pulau lain di Indonesia. Jika di Pulau Jawa saja lahan tani terus terkonversi secara akumulatif sebesar 1.002.055 Ha atau 61%, bagaimana nasib masa depan produksi pertanian kita? siapa yang dapat memenuhi kebutuhan pangan anak cucu kita?

Mari sama-sama membina dan mengingatkan. Pemerintah (Presiden) yang akan datang, hendaklah menerbitkan kebijakan-kebijakan yang pro poor. Melindungi kaum tani, ditengah upaya menggenjot perekonomian melalui industri. Banyak cara, mulai dari pengembangan agro-industri, kebijakan daerah strategis nasional, hingga peraturan-peraturan lainnya yang saya yakin abang lebih mumpuni soal ini. Yang terpenting adalah, lindungi petani kita dengan pembangunan yang lebih adil bagi mereka, atau jikalaupun pembangunan modern dan industrialisasi tidak dapat terelakan, mohon sekiranya petani-petani kita dapat dilindungi eksistensinya melalui peran peraturan dan kebijakan. Karena melindungi petani, berarti kita melindungi perut anak cucu kita di masa yang akan datang.

***

KEDELAI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN KITA

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Ketika kita masih SD, kita selalu diajari guru kita bahwa negara kita adalah negara agraris. Alasannya, sebagian besar rakyat kita menggantungkan hidup pada pertanian. Kita diajari juga bahwa negara kita adalah negara bahari. Alasannya, sebagian besar wilayah negara kita adalah laut. Luas daratan lebih kecil dibanding luas lautnya. Hanya itu saja pelajaran yang kita terima. Kita tidak didorong untuk berpikir lebih jauh: Bagaimana kita harus meningkatkan produksi pertanian dan kelautan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Saya yang sejak kecil menjadi anak hutan dan anak laut, bukan hanya berteori tentang kemiskinan petani dan nelayan. Saya mempunyai pengalaman empiris hidup dalam kemiskinan, di tengah-tengah kehidupan petani dan nelayan.

Tentu tidak ada satupun pemerintah di negara kita yang tidak memperhatikan pembangunan pertanian dan kelautan. Berbagai instutusi perguruan tinggi yang mengembangkan pendidikan dan penelitian di kedua bidang ini, telah lama kita miliki. Hasilnya belum seberapa. Sebagian besar petani kita masih bertani menggunakan cara-cara tradisional, yang kini justru mengancam kelestarian alam. Perkebunan besar dibuka, namun hanya menghasilkan buruh tani, suatu bidang pekerjaan yang merupakan bagian rakyat kita yang paling miskin. Perusahaan perikanan besar didirikan, namun juga hanya menghasilkan buruh nelayan, yang juga hidup tak kalah miskin. Petani dan nelayan yang merupakan komponen terbesar bangsa kita, belum mampu kita sejahterakan. Ketidakberhasilan kita meningkatkan taraf kesejahteraan petani dan nelayan, adalah kegagalan kita meningkatkan kesejahteraan bagian terbesar rakyat kita.

Saya tidak ingin berpanjang kalam membahas masalah di atas pada kesempatan ini. Ilmu saya juga tak dalam membahas masalah itu dengan berbagai aspeknya. Saya ingin fokus pada krisis kedelai, bahan dasar utama pembuatan tahu dan tempe, yang telah menjadi makanan utama sebagian besar rakyat di negeri kita. Meskipun kedelai sangat penting, namun produksi kedelai dalam negeri, tak pernah mampu memenuhi kebutuhan. Kita harus megimpor kedelai dari luar negeri, terutama dari Amerika Serikat. Kita bukannya tidak mampu meningkatkan produksi kedelai untuk memenuhi kebutuhan. Persoalannya terletak pada harga. Ketika harga kedelai di luar negeri lebih murah, maka kecenderungan pedagang untuk mengimpor cukup besar. Untuk mengurangi impor ini, Pemerintah menerapkan biaya masuk. Karena harga menjadi seimbang, bahkan lebih murah, maka petani dalam negeri tak terdorong untuk meningkatkan produksi. Dalam keadaan seperti ini, tanpa kita sadari kita mulai tergantung pada impor.

Ketika harga kedelai di luar negeri meningkat tajam, ditambah lagi dengan biaya masuk, maka harga kedelai impor di dalam negeri langsung melonjak. Ketika itu terjadi, kita tidak mungkin menghentikan impor, karena produksi dalam negeri tak mencukupi. Bahkan harga kedelaiproduk domestik juga akan naik. Kini, Pemerintah menghapus biaya masuk untuk sementara. Namun langkah itu takkan efektif, sebab harga pembelian impor sebelum dikenakan bea masuk sudah naik hampir dua kali lipat. Harga kedelai produk dalam negeri juga sudah terlanjur naik. Perlu waktu relatif lama untuk menstabilkan harga. Harga yang wajar hanya akan tercipta kembali kalau harga kedelai impor turun atau produksi kedelai dalam negeri meningkat. Hal yang sama, sebenarnya juga terjadi pada produk pertanian yang lain, seperti jagung, lada, cengkeh, bawang putih.

Masalah utama pertanian kita, bukanlah terletak pada mampu atau tidaknya kita meningkatkan produksi, tetapi lebih kepada stabilitas harga. Negara industri besar seperti Amerika Serikat tak pernah perduli nasib negara agraris yang miskin. Ketika saya di kabinet di bawah Presiden Megawati, kita ribut terus dengan Amerika Serikat karena memaksa agar Pemerintah mengizinkan peternak dan pedagang Amerika Serikat, untuk mengekspor sayap ayam potong ke negara kita. Kita tak mau mengizinkan, karena sayap ayam tak banyak dimakan orang di negeri itu, sementara di negeri kita banyak orang mengonsumsinya karena murah. Kalau sayap ayam dijual besar-besaran di negeri kita, produksi ayam dalam negeri akan terpukul. Rakyat sudah merasa cukup makan sayap ayam murah, daripada beli dagingnya yang lebih mahal. Amerika selalu berdalih perdagangan bebas. Dari dulu saya sangat hati-hati dengan konsep perdagangan bebas itu, termasuk lamanya saya menelaah RUU Penanaman Modal, yang membuat anggota kabinet yang lain agak jengkel dengan sikap saya. Kalau penanam modal dalam negeri dan luar negeri diberi status sama dalam segala hal, dan tidak dibatasi berapa besarnya modal yang ditanam, saya katakan bisa-bisa tukang cukur atau tukang martabak dari Bangladesh memohon izin penanaman modal untuk membuka sebuah kios cukur dan kios martabak. Ini masalah besar bagi bangsa kita.

Untuk membantu petani dan nelayan kita, saya pernah melontarkan gagasan dalam sidang kabinet, agar Pemerintah memberikan subsidi pembelian produk pertanian dan perikanan, tentu dengan konsekuensi pengurangan subsidi BBM dan listrik. Harga dasar gabah dan kedelai misalnya ditetapkan bisa lebih tinggi dari harga pasaran. Dengan demikian harga akan stabil dan gairah petani untuk menanam juga besar. Bulog membeli gabah dan kedelai dengan harga yang lebih tinggi. Pemerintah melempar ke pasar dengan selisih harga setelah dikurangi subsidi. Dengan cara itu tukang ijon juga akan berhenti beroperasi memeras petani dan nelayan. Gagasan saya itu, menurut Wapres Yusuf Kalla, sulit dilaksanakan di lapangan. Saya mengerti, gagasan ini baru ditataran permukaan. Namun kita harus menelaahnya secara rinci agar dapat dilaksanakan di lapangan. Mungkin kita uji coba pada produksi padi dan kedelai lebih dahulu, untuk kita lihat hasilnya dan melakukan evaluasi.

Saya berpendapat bahwa dampak berganda dalam pembangunan ekonomi harus dimulai dari pertanian dan kelautan. Kalau petani dan nelayan sejahtera, daya beli mereka meningkat, maka mereka akan berpikir untuk memperbaiki rumah, membeli peralatan rumah yang lebih modern, membeli kendaraan dan seterusnya. Tetapi kalau petani dan nelayan, yang merupakan bagian terbesar rakyat kita, tak mampu menjadi penggerak dampat berganda, maka pertumbuhan ekonomi kita, hanya akan menggantungkan pada investasi, belanja Pemerintah dan konsumsi masyarakat perkotaan. Padahal, Investasi belum berjalan sebagaimana kita harapkan, karena faktor-faktor non ekonomi, seperti kepastian hukum, pelayanan birokrasi yang berbelit, pungli dan situasi keamanan serta kenyamanan berusaha yang belum mendukung.

Belanja Pemerintah banyak pula yang tertunda dan tertahan karena kekhawatiran birokrasi kalau-kalau mereka dicurigai melakukan korupsi. Memberantas korupsi memang telah menjadi tekad kita bersama dan tentu harus terus digalakkan. Namun ketakutan yang berlebihan akan digunjingkan dan diperiksa kejaksaan dan KPK karena dugaan korupsi, dapat berdampak negatif pula pada penggunaan anggaran. Para pejabat ragu-ragu mengambil keputusan karena khawatir dan takut salah. Dana APBD yang cukup besar yang tak digunakan itu disimpan di bank-bank milik Pemda. Uang itu kemudian didepositokan lagi di Bank Indonesia. BI harus membayar bunganya.

Kini masalah kedelai mencuat ke permukaan. Harganya melonjak tajam. Sementara produsen tahu dan tempe, tidak mungkin serta merta menaikkan harga jual produknya. Daya beli masyarakat makin lemah. Harga bahan makanan yang lain seperti minyak goreng dan telur juga mengalami kenaikan. Akibatnya, produsen tahu tempe bukan saja mengurangi produksi, bahkan terancam bangkrut. Kebangkrutan ini serta merta berdampak pada meningkatnya pengangguran. Tahu tempe yang selama ini dianggap sebagai produk makanan murah namun bergizi, berubah menjadi barang yang mahal. Kalau rakyat tak mampu lagi membeli tahu tempe sebagai lauk pauk sehar-hari, maka apa lagi yang akan dimakan?

Langkah sungguh-sungguh untuk membenahi ekonomi kita untuk mengangkat harkat dan martabat petani dan nelayan, sungguh merupakan pekerjaan besar, berat dan sulit. Namun kita tidak mungkin mengabaikan hal ini. Kasus melonjaknya harga kedelai, kiranya menjadi pelajaran sangat berharga untuk kita lebih bersungguh-sungguh membenahi pembangunan pertanian dan perdagangan kita.***

Wallahu’alam bissawwab

Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 16th, 2008

Salam Kalah.

Laki-laki angkuh akhirnya kalah… Kalah oleh ketabahan, kesabaran, keluguan dan kasih sayang yang dibalut oleh keikhlasan dan ketulusan seorang perempuan. Yang berani berjudi dengan segala kemungkinan. Apakah dia akan dicintai atau justru dicampakkan. Padahal ia tau bahwa laki-laki angkuh ini kelinci jantan…

Lelaki angkuh akhirnya tidak tega dan mengiba, hingga akhirnya terbiasa untuk berpikir laksana seorang pujangga. Pada perempuan, Kalau dulu hatinya seperti srigala yang tega, kini lelaki angkuh  berhati rusa. Lemah, pasrah dan menerima. Pada satu cinta yang justru seorang wanita yang luar biasa.

Perempuan sabar itu datang, dengan tawa yang riang, menghapus segala emosi laki-laki angkuh untuk berperang dan menyalurkan kekuatan untuk bisa berpikir jernih dan tenang. Memberi kasih sayang, bukan dengan uang, bukan dengan stigma yang mudah lekang, namun dengan ketulusan dan keiklasan yang sangat luang…

Dalam dirinya hanya ada satu kata, mencintai,, ikhlas meski mungkin akan disakiti atau dilindungi, meski mungkin akan ditinggali atau meninggali, meski harus menuruti di setiap hari.

Laki-laki angkuh sudah tergantung. Lelaki angkuh sudah seolah linglung. Lelaki angkuh sudah berhenti menikang-nikung. Lelaki angkuh kini berjanji akan menaiki perahu bersama perempuannya, 36 kali mendayung, agar sampai di pelabuhan biru berpayung. Tempat dimana kasih dan sayang, asah dan asih, dapat terbina dan tergabung…

Sebuah Prolog,

Dedikasi kepada Ms. Nah. 230985-230908.

Mafia Berkeley adalah julukan yang diberikan kepada sekolompok menteri bidang ekonomi dan keuangan, yang menentukan kebijakan ekonomi Indonesia di masa awal pemerintahan Presiden Suharto. Sebagian besar dari menteri-menteri adalah lulusan doktor atau master dari University of California at Berkeley di tahun 1960-an atas bantuan Ford Foundation. Para menteri tersebut sekembalinya dari Amerika Serikat mengajar di Universitas Indonesia. Pemimpin tidak resmi dari kelompok ini ialah Widjojo Nitisastro. Para anggotanya antara lain Emil Salim, Ali Wardhana, dan J.B. Soemarlin. Dorodjatun Koentjoro-Jakti yang lulus belakangan dari Berkeley kadang-kadang juga dimasukkan sebagai anggota kelompok ini. Dengan teknik-teknik makro ekonomi yang mereka dapatkan dari Berkeley, mereka menetapkan berbagai kebijaksanaan makroekonomi dan deregulasi yang memacu kegiatan ekonomi Indonesia yang macet pada masa pemerintahan Sukarno. Menjelang akhir pemerintahan Suharto di tahun 1990-an, pengaruh mereka disaingi oleh para insinyur dan cendekiawan Islam yang dekat dengan B.J. Habibie, menteri riset dan teknologi dan kemudian wakil presiden.