Jalan Tol Musuh atau Kawan Petani…?
October 6, 2008 by about-antonovski
JALAN TOL MUSUH ATAU KAWAN PETANI
(Oleh: Chrisna Permana - Pengamat Ekonomi Perkotaan, Urban Regional Development Institute, Posting Jurnal Nasional Juni 2008)
Permasalahan pertanian di Indonesia, selain masalah kebijakan, dan efek persaingan global juga diperparah oleh pembangunan fisik yang lebih bersifat “stimulative structural reform”. Yang mana Indonesia di era modern ini, pembangunan fisik justru lebih berpihak terhadap kemajuan industrialisasi aplikatif (sebagai andalan penggerak ekonomi nasional), justru pada saat pundi-pundi utama pendukung industrialisasi tersebut belum sepenuhnya mantap. Mulai dari penerapan teknologi yang masih lambat, sumber daya manusia yang belum berdaya saing tinggi, faktor kebijakan dan perlindungan peraturan pemerintah yang masih belajar utk membaik, hingga iklim keamanan sosial dan kestabilan ekonomi yang masih rentan oleh pengaruh dalam maupun luar negeri. Sedangkan di sisi lain, pembangunan fisik yang tendensius tersebut justru mengancam eksistensi perkembangan pertanian. Pembangunan fisik yang bersifat stimulative structural reform, mencakup jalan tol, saluran drainase pabrik, tempat pengolahan sampah, sarana berbelanja modern (hypermarket, mall), hingga perumahan kota baru.
Satu contoh kasus yang menyoroti perhatian saya adalah, demi kepentingan ekonomi dan industri, digulirkan wacana Tol 1000 km Trans-Jawa (Anyer hingga Banyuwangi). Siapa berkepentingan dan siapa menuai keuntungan di sini? Jika melihat dari efeknya terhadap petani. Saya justru pesimis. Khawatir akan transformasi struktural semakin menjadi-jadi di Pulau Jawa. Belumkah disadari bahwa pembangunan tol Cikampek sudah mengorbankan lahan pertanian di karawang? fakta tercatat sejak tahun 1962 hingga 1991 Karawang adalah produsen beras terbesar di Indonesia. Berdasarkan data BPS, 20% produksi nasional adalah berasal dari Karawang. Akan tetapi ditahun yang sama, semenjak tol cikampek dibangun, industri berkembang di sepanjang jalur strategis tol tersebut. Migrasi tenaga kerja industri dari daerah lain berdatangan dan membuat permukiman baru, sementara penduduk setempat mulai berurbanisasi menjadi masyarakat industri. Lahan sawah berkurang 139 Ha setiap tahun sejak 1991-kini, produksi gabah kering berkurang 450.360 ton hampir setiap tahun. Belakangan bahkan fenomena seperti ini mulai merambah ke Purwakarta, Subang, Bekasi dan bahkan Tasikmalaya. Tol versus petani. Karena tol sangat stimulan terhadap transformasi struktural dari sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder (industri).
Bayangkan jika kemudian tol 1000 km jadi terbangun. Jalan tol tersebut melalui hampir 12 titik strategis pertanian di Jawa Barat (padahal Jawa Barat merupakan produsen pertanian terbesar di Indonesia). Adalah Indramayu, Sukabumi, Cirebon, Subang, Probolinggo, Pemalang, Pekalongan, Kudus, Pati hingga Grobogan akan mengalami fenomena yang sama dengan karawang. Kurang lebih sekitar 600 Ha lahan pertanian irigasi teknis terkonversi (belum lagi multiplier efeknya berupa pertumbuhan permukiman pekerja industri dan pusat perbelanjaan yang mungkin akan mengkonversi lahan tani lebih besar lagi). Siapa lantas yang akan mendukung produksi pertanian Jawa Barat?
Alih-alih berdebat, saya justru hendak meningatkan, laju pertumbuhan penduduk tahun 2005-2010 indonesia akan mencapai 1,3% yang mana penduduk Indonesia akan bertambah mencapai 243 juta jiwa. Yang berarti (asumsi beras dikonsumsi 139 kg pertahun) maka dibutuhkan beras sebanyak 33,78 juta ton. dan kebutuhan pangan (beras) pada tahun 2030 bahkan akan lebih ekstrim mencapai 59 juta ton. Jumlah beras yang sangat tinggi dan perlu dukungan dari produksi nasional.
Pemerintah berdalih bahwa pertanian akan ditukar untuk dikembangkan di daerah lain. Namun dimana? sudah banyak diketahui adalah Pulau Jawa sebagai lahan tani paling subur. Bahkan tingkat kesuburannya 1 berbanding 9 dengan di pulau-pulau lain di Indonesia. Jika di Pulau Jawa saja lahan tani terus terkonversi secara akumulatif sebesar 1.002.055 Ha atau 61%, bagaimana nasib masa depan produksi pertanian kita? siapa yang dapat memenuhi kebutuhan pangan anak cucu kita?
Mari sama-sama membina dan mengingatkan. Pemerintah (Presiden) yang akan datang, hendaklah menerbitkan kebijakan-kebijakan yang pro poor. Melindungi kaum tani, ditengah upaya menggenjot perekonomian melalui industri. Banyak cara, mulai dari pengembangan agro-industri, kebijakan daerah strategis nasional, hingga peraturan-peraturan lainnya yang saya yakin abang lebih mumpuni soal ini. Yang terpenting adalah, lindungi petani kita dengan pembangunan yang lebih adil bagi mereka, atau jikalaupun pembangunan modern dan industrialisasi tidak dapat terelakan, mohon sekiranya petani-petani kita dapat dilindungi eksistensinya melalui peran peraturan dan kebijakan. Karena melindungi petani, berarti kita melindungi perut anak cucu kita di masa yang akan datang.
***