Mengupas Riau Daratan… Sebuah perspektif perkotaan
October 7, 2008 by about-antonovski
“Jika tuan pernah singgah di tanah Riau Daratan, perkenankanlah saya bertanya pada tuan, apa yg tuan ingat dan dirasa paling berkesan….?”
Saya iseng bersimulasi utk menanyakan pada kolega, sanak kerabat, dan kawan. Kebanyakan mereka seringkali menjawab, “Banyak hutan kelapa sawit (terutama di Rokan Ulu), banyak sungai besar (terutama sungai Siak), banyak kapal industri yang megah (terutama di pelabuhan dumai), banyak tenaga kerja necis dari pulau Jawa (terutama para ahli tambang di Rumbai), dan lempok durian (ehehe..). Semua itu ada benarnya juga, tp apa sekiranya yg jauh lebih dikesankan dari Riau Daratan jika kemudian kita menelaahnya dari sudut pandang perspektif perkotaan?
Episode 1. Pekanbaru
Pertama kali tiba di Riau daratan jelaslah kami tiba di Kota Pekanbaru. Ibukota yang bersahaja dengan nuansa melayu yg sangat kentara. Orang2 berkulit agak hitam beralis tebal dan berbicara menggunakan irama. Nuansa serambi2 terpampang di mana2. Sangat banyak sepeda motor (pada saat itu sedang tren-trennya menaiki sepeda motor sambil menyalakan lampu, kebijakan “angot2an” dari pemerintahan pusat). Perjalanan dari bandara Sultan Syarif Kasim hingga hotel Grand Zuri di jantung kota Pekanbaru ditempuh sekitar 20 menit, melalui gedung2 pemerintahan, ruko2 dan pertokoan, hingga bangunan-bangunan landmark seperti masjid agung dan tugu2 persimpangan.
Pekanbaru panas. Pola penataan ruangnya cenderung “grid” membentuk petak2 segiempat dengan banyak persimpangan di penghujung jalan. Dengan kontur yang berbeda2 khususnya pada bagian selatan perbatasan, membuat banyak jalan yang seakan tanjakan dan seakan turunan.
Jenderal Sudirman, Kami menyebutnya jalan utama, krn dirasa, jalan Jenderal Sudirman inilah jalan dengan 2 lajur bertepi lebar berlawanan arah yang terpisahkan oleh pembatas sempadan jalan berupa tanaman2. Sepanjang jalan ini, kami temui hotel2, ruko, perkantoran pemerintahan, terminal, hingga akhirnya sampai di hotel tujuan.
Oya, sekedar mengingatkan, jangan sungkan untuk berjalan kaki malam, kami melakukannya. Kota Pekanbaru relatif aman, selama anda tidak berpenampilan mencolok (alias tidak menenteng hp ditangan, leher emas berkalungan, berlian dan intan di tangan kiri dan kanan). Tempat saya menginap, hanya beberapa langkah saja dapat menjangkau dua mall besar di kota itu. Sekalian mencari junkfood utk makan malam dan watung internet krn hendak berkorespondensi email dg rekan di Jakarta. Jangan kaget apabila menemukan angkutan kota berbunyi nyaring dg musik2 dangdutnya yang melebihi volume setel wajar. Jangan mencari angkot yg sepi, krn saya yakin anda akan sulit menemui. Lumrah, di sana angkot dilengkapi dengan sound system musik2 dangdut dan melayu. Sedikit berhati2, krn konon seringkali terjadi perampokan dg modus operandi, si pendatang naik angkot kemudian di suruh duduk di bagian terdalam, lantas si sopir dan kenek angkutan bekerjasama dengan preman, ditumpangilah preman yg sudah berdiri di satu titik tepi jalan, kalau sudah naik maka dimulai lah ancaman si preman. Maka jika sudah demikian, ditelanjangilah kita habis2an. Semua dompet, hp, perhiasan, jam tangan ludes diamankan sang preman, kcuali mungkin pakaian dalam (jika dia berkenan).
Hm…stop yg mengerikan. Beralih ke makanan, rasa2nya tidak ada yg terlalu khas dengan masakan orang Pekanbaru. Banyak ditemui sayur bersantan di rumah makan melayu (mirip palembang - seperti gulai ikan patin), rendang dan aneka masakan padang di restoran minang, dan malah2 masakan jawa. Overall, cukup banyak pilihan bila hendak mencari makan.
Episode 2. Kampar - Siak - Pelalawan Banjir-Banjiran
Dari Pekanbaru, Kampar - Siak - Pelalawan kira2 dijangkau sekitar lebih dari 3 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan mirip dengan Bandung Jakarta, perbukitan, rumah-rumah tradisional hingga sungai-sungai berbadan lebar. Kami menggunakan mobil SUV kijang kapsul hitam milik pemerintahan menyusuri ruas jalan yang berkelok2an. Saya, dan kawan Anto yg sibuk dengan handycam selama perjalanan asik membicarakan perihal gerakan Riau Merdeka. Begitulah Indonesia, tanah tumpah darah kami bertiga. Saking banyaknya daerah yang merasa diabaikan pembangunannya, padahal mereka memiliki sumber daya alam yang melimpah tidak ada habisnya, maka mereka seringkali memberontak pada negara, mengancam hendak merdeka, apabila tidak disejahterakannya. Perspektif kenegaraan yg sempit dari kawan2 separatis. Mohon sekiranya, jika ada yg membaca utk tidak dibahas mengenai hal ini. Saya anti separatis, tapi fakta ini berkecamuk di mana2.
“Kampar dan Siak ini rawan banjiran pak, kalau sudah musim hujan,” keluh Pak Sopir. Seketika kami melintasi di atas jembatan sungai Kampar.
“Pantas lah pak, orang sungainya sebesar ini, saya dengar Pelalawan juga demikian?” sahut saya.
“Iya. Di mana yang tidak banjir di Riau ini Pak,” jawabnya.
Kampar - Siak - Pelalawan (dan bahkan mungkin Rokan hingga ibukota provinsi, Pekanbaru) seringkali dilanda banjir bandang. Sungguh ironi ditengah provinsi yang konon memiliki areal hutan dan kebun semak2an yang luas nian. Analisa saya, terjadi pengerusakan pada titik2 catchment area (hutan dan sempadan sungai), selain itu curah hujan di Provinsi ini memang sangat tinggi, juga banyak daerah yang memiliki kontur tidak berimbang, sebagian lahan ada di dataran rendah sebagian lahan ada di dataran tinggi, yang rendah terkadang menyerupai kubangan. Maka wajar jika kemudian, air genangan tidak pergi kemana2 selain merendam perumahan. Maka dari itu, kami sekawanan konsultan, ditugaskan negara utk membangun rumah yang lebih tertata dan sesuai dengan keadaan lingkungan serta meminimalisir dampak banjir2an.
***
Bersambung.