Saresehan Muntok, Bangka Barat. Sebuah Prolog…Kopor Jalan Sendiri, TV nyala listrik mati, di gelapnya kamar misteri..
October 7, 2008 by about-antonovski
Muntok, September 2006.
Kami menyebutnya “kota mati”. Entah knapa, bukan lantaran tidak ada tanda kehidupan, atau gelap gulita di sana. Namun krn memang auranya sangat tidak biasa. Dipikir2, kami merasa ini jauh berbeda dengan ketika kami tiba di Pangkal Pinang, dan Sungailiat (dua kota terbesar di Pulau Bangka) selama lawatan 3 hari kami di Pulau Bangka. Episode kunjungan kami (saya dan kawan Al) sebagai pekerja konsultan pembangun rumah-rumah perumnas di pedalaman Nusantara.
Perjalanan
Dari Sungailiat, Muntok dijangkau dengan jeep Nissan Terrano skitar 4 jam perjalanan. Melalui rimba, semak belukar, ladang sisa penambangan timah, hingga perkampungan transmigran. Hanya satu kata yg dapat mewakilkannya: “gersang!” kawan Al yg mengekspresikannya dg tidak bosan2 memeluh keringat di dahinya acap kali si sopir mengiba utk membukakan jendela mobil krena mengantuk dan ingin menikmati kreteknya.
Sampai di Kota Muntok, perjalanan belum berakhir. Jangan berpikir anda akan singgah di Novotel berkelas atau Sol Elite yg mewah di mana anda akan di sambut dg karangan bunga dan pelayanan dg rona bersahabat di wajah. Tidak ada hotel! yg ada hanya losmen. itupun sangat jarang. Krn kurang berjiwa petualang, lantas saya keluar masuk losmen yg ada hanya demi menjamin kebersihan dan keamanan losmen. Hingga kawan Al akhirnya mengoreksi, “Kau cari apa? di sini tidak akan kau temui hotel bintang. Sudahlah, di sini saja, sudah cukup malam. khawatir malah kita kehabisan kamar singgah.” Saya pun menyerah dan kami akhirnya singgah. Sore hari menjelang malam. 17.30
Losmen
Losmen Arjuna. Ini losmen lebih mirip rumah sakit Dustira Bandung atau halaman Fakultas Kedokteran UI Salemba. Bangunan kuno, banyak patung2, bernuansa mistik. Seorang paman Bangka (kemudian diketahui adalah penunggu losmen) segan tidak segan menyapa. “Untuk berapa malam?”
“Kami sewa 2 kamar utk satu malam.” Masing2, saya dan kawan Al satu kamar besar dg twin dan si sopir satu kamar kecil standar. Harga sewa losmen arjuna utk kamar terbaik adalah 175 ribu (dalam hati saya tertawa, ini berbeda 1 digit nol dengan kamar hotel berbintang kelas termurah yg kami sewa di Kota Palembang).
Menuju ke kamar. Begitu pintu kami buka. Ranjang tua, ukuran queen. Televisi 14 inci merk sharp, menyelinap di antara lemari2 tua jati usang yg sbagian sudah digerogoti oleh rayap. Bau lembab sangat mengentara. Jika tidak kuat, siap2 utk merasa seperti asma. Kawan Al lantas membuka kamar mandinya. Di dalamnya ada sebuah bak ukuran besar, lantai tidak berporselen, dan cubluk jongkok (yg dulu sering saya temui di kampung halaman di pedalaman Tasikmalaya). “Penginapan macam apa ini!” saya pun tak kuasa mengeluh. Sungguh ironi, pekerja konsultan internasional berbekal rupiah menebal (ehehe…) sampai hati harus merebahkan badan di kamar sumpal, yakin saja badanku akan pegal2. 19.00 s/d 23.00
Dinner ala Jongko
Kalau perut sudah meraung, siapa tahan untuk menanggung. Malam2 buta. Lapar akhirnya mengantar saya, kawan Al dan sopir utk berkumpul di depan lorong kamar. Kami sepakat untuk mencari makan. Lalu kami bertiga melangkah di lorong losmen yg gelap yg setiap 3 langkah kami temui patung2 entah belalang raksasa atau perempuan telanjang berwarna kayu coklat. “Uji nyali ini sih,” celetuk saya. Lainnya tertawa. Masing2 berjaket krn memang malamnya jauh lebih dingin dibandingkan siangnya.
23.40, sekitar. Keluar pelataran hotel kaget bukan kepalang. Jalanan raya sepi. Gelap tanpa lampu. dan dari kejauhan kami hanya melihat cahaya lentera satu warung jongko (tenda penjajak makanan nasi goreng dan seafood) sekitar 100 m dari titik di mana kami berdiskusi mau kemana ini. “Cuma ada itu saja pak,” sopir menunjuk. Maka kemudian kami bertiga melangkah menyusuri tepian jalan dg permukaan antara kerikil, rumput, aspal atau takut kecebur comberan marka jalan, mendekati warung jongko.
Nasi Goreng Seafood
Jangan kaget apabila ke Bangka, kalau tidak rajin bertanya, apalagi jika anda seorang anti hidangan seafood ria. Minimal setiap masakan kalau tidak ada serpihan ikan, ya ada saja sekawanan udang kecil atau sepotong tubuh cumi2 mungil. Matilah saya! Kawan Al dan sopir menertawai kegondokan saya ketika nasi goreng sudah tercampur dengan anyir seafood. “Saya nggak bisa makan ini, bisa gatal2 saya.”
Tragedi Koper Bergoyang
Kamar twin sharing. Dua tempat tidur terpisah. Saya merebah sementara kawan Al sibuk mengulas catatan dan handycam-nya. Pukul 01.00, sekitar. Suasana hening, lampu kamar redup, saya mengantuk. Kawan Al sibuk membolak balikan catatan di ranjangnya. “Lanjutkan saja besok, kita prlu stamina besok.” dia hanya tertawa dan membalas, “Tidurlah…”
Hening seketika, sehampir saya memejam, tiba2 “Graaak…” kami sama2 berpandangan. “Gruaak…” mencari muasal bunyi, hingga akhirnya tercengang dg muka ngeri. Melihat kopor bergerak tidak keruan kesana kemari. Sumpah! ini kali pertama saya melihat fenomena seperti ini. Tadinya saya fikir saya terhalusinasi kantuk, tapi setelah saya sadari kawan Al mengucap dg lantang, “Astagfirullah…” akhirnya saya sadar ini nyata. Sesaat kami hening.
“Sudah saya duga, losmen ini aneh!”
“Iya, tapi mw bagaimana lagi,” kilah kawan Al. Mukanya tertawa masam. “Perlu panggil si Afu?” maksudnya si sopir di kamar sebelah. Saya menggeleng.
“Tidur sajalah, biarkan saja itu,” sambil menunjuk kearah kopor bergerak yg kini sudah tegak kembali.
Lampu Padam
Sekitar 02.00, tidur kami terperanjat karena tiba2 kamar gelap. Saya maklum kalau lampu sering padam. Di Indonesia mana selain jawa kalau tidak dua jam sekali padam listriknya. Tapi ini berbeda! Tiba2 listrik padam, gelap gulita. tengah malam pula. Celaka! pekat saya. Saya tidak bisa melihat apa2, bahkan kawan Al pun saya tidak bisa memonitor keberadaanya, kecuali saya bertegur sapa, “Aman kau?” lantas dia menjawab, “Ya! Diam saja ditempat berdoa.”
“Creek!” mustahil mustajab. Televisi kuno merk Sharp 14 inci di hadapan kami tiba2 menyala sndirinya. Ini gila! teknologi TV macam apa, hingga tanpa listri k dia menyala. Kuingat RCTI tayangannya, ketoprak humor. Kamar masih gelap gulita kecuali cahaya dari layar televisi. Sedikit kulihat kawan Al terperangah.
“Ckckck.., nasib kita Al.”
“Kalau begini caranya kita keluar saja!” kawan Al sudah mulai tidak tenang.
“Kemana? mobil? ada jaminan di sana tidak ada yg mengetuk jendela mobilnya? kan kita memarkirkan di halaman parkir segitu sepinya?”
“Aaah! Payah ini losmen!” hingga akhirnya tv mati dengan sndirinya. gelap gulita. diantara kami hanya bisa terdiam pasrah di tempat tidur masing2. bungkam dan mencoba memejam. Saling mendahului utk tertidur menghindar dari suasana angkar.
***
06.00 salat subuh sedikit terlambat (wudhu bersama, saling menunggu, karena akhirnya nyali kami menciut juga). Kamar sudah mulai terang oleh cahaya alam. Matahari mulai sinari. Afu mengetuk pintu, mengajak sarapan. lalu kami ceritakan semuanya. Afu tertawa dia menjawab, “Bapak enak berdua, lah saya alami itu sendiri.” Lantas ia menceritakan kejadian malam nya pintu kamarnya yang diketuk dua kali, ia tidak membukanya krn takut dan hanya berteriak, “siapa…”, namun tidak ada yg menjawabnya.
Kota pengasingan Bung Karno. Kota pelabuhan di semenanjung Bangka. Kota ruko gudang kelontong para pedagang kok-tiong. Muntok, ajaib, aneh, bermakna, namun memberi kami sejumlah cerita. Oleh2 dari Muntok? sejepret dua jepret foto kami bertiga di Losmen tak bertuan. di penginapan tanpa keramaian. tempat peristirahatan yang penuh dengan keanehan.
Cerita nyata hanya sebuah epik pengalaman belaka. Siapa percaya boleh menyerapnya, siapa tidak silahkan baca lalu ditolak. Saya hanya berbagi cerita atas apa yang ada, diluar batas logika, bahkan bagi kami pemuda2 yg terbiasa berpikir dan berbicara dg fakta dan hipotesa. Karena gaib tidak bisa sejalan dengan teori ilmiah. krn gaib akan tetap menjadi sejarah yg terserah…
____
Salam Hormat,
Chrisna Permana.
makanya jangan mikir sembarangan dikota muntok kalo ga mau kena getahnya.. untung ga papa…… gw terhina lo jelek2in muntok diinternet lagi.. tp ya udahlah kenyataannya mang gt……
by pemuda mUntok
wah, kaco mulutmu bung. sadar g dengan tulisan lu udah menyinggung SARA. Halusinasi mu tinggi bgt
kayaknya ga separah itu deh???… saya asli pemuda muntok blm pernah seapes cerita anda kecuali jika anda mempunyai tujuan & pemikiran yang negatif thinking itu bisa terjadi….. satu lagi pesan saya kalau kemuntok lagi jgn lupa permisi ok???…